Saturday, November 3, 2007

Manasik Haji Komplit dan Praktis

MANASIK HAJI KOMPLIT DAN PRAKTIS

oleh
Drs. H. Irfan Anshory



PENDAHULUAN

Ada tiga cara ibadah haji, berdasarkan hadyu atau hewan qurban:
1. TAMATTU` (umrah dulu, baru haji), bagi mereka yang tidak membawa hadyu.
2. I F R A D (haji dulu, baru umrah), bagi warga Makkah yang membawa hadyu.
3. Q I R A N (haji dan umrah digabungkan), bagi bukan warga Makkah yang membawa hadyu.

Oleh karena bukan warga Makkah dan tidak membawa hadyu dari rumah, maka jemaah haji Indonesia melakukan Haji Tamattu`, baik Gelombang Pertama (yang ke Madinah dahulu) maupun Gelombang Kedua (yang langsung ke Makkah). Meskipun kita lama di Makkah, kita berihram (memakai pakaian ihram serta tidak melakukan larangan ihram) cuma beberapa hari saja.


PAKAIAN IHRAM

Pakaian ihram pria adalah dua helai kain tidak bersambung, masing-masing sebagai sarung (izar) dan selendang (rida’). Pakaian ihram wanita boleh busana apa saja (bebas), asalkan menutupi seluruh tubuh selain muka dan telapak tangan (persis seperti pakaian sholat!).
Selama berihram, diperbolehkan: (1) mengganti pakaian ihram; (2) mandi atau membasuh kepala; (3) memakai jam tangan, sandal, sepatu sandal, cincin, gelang, kalung, kacamata, anting-anting, alat pendengar, ikat pinggang, dompet, telepon selular, atribut, tanda pengenal, dan tas kecil di leher.


LARANGAN-LARANGAN IHRAM

(1) Hubungan badani suami-istri. Jika melakukan ini, dendanya menyembelih unta atau sapi, dan hajinya BATAL.
(2) Membunuh hewan dengan sengaja. Jika melakukan ini, dendanya menyembelih domba.
(3) Menikah, menikahkan, atau melamar. Jika melakukan ini, tidak ada denda, tetapi pernikahan dan pelamaran itu tidak sah (harus diulangi setelah selesai berihram).
(4) Memotong atau mencabut tanaman.
(5) Memotong atau mencabut kuku, rambut dan bulu.
(6) Memakai wangi-wangian atau parfum di badan dan pakaian.
(7) Berkata kotor (rafats), menyakiti orang lain (fusuq), atau bertengkar (jidal).
(8) Khusus pria: memakai pakaian bersambung (baju, celana, pakaian dalam) atau sepatu yang menutupi tumit.
(9) Khusus pria: memakai penutup kepala yang menempel atau melekat.
(10) Khusus wanita: memakai sarung tangan atau menutupi muka.
Jika melakukan larangan ihram No.4 sampai No.10:
Kalau lupa atau tidak sengaja, tidak apa-apa. Cukup istighfar.
Kalau terpaksa dilakukan, keluarkan fidyah untuk enam orang fakir miskin.


PERSIAPAN UMRAH

Di Madinah dan di Dzulhulaifah (bagi Gelombang Pertama), atau di Bandar Udara Raja Abdul Aziz (bagi Gelombang Kedua), atau di mana saja asalkan di luar Tanah Haram, kita melakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Mandi, membersihkan badan, dan memakai wangi-wangian.
2. Memakai pakaian ihram.
3. Shalat sunnah ihram dua rakaat, dengan ayat Al-Kafirun dan Al-Ikhlash.
4. Ketika kendaraan bergerak menuju Makkah, ucapkanlah: LABBAIK ALLAHUMMA `UMRAH. Dengan mengucapkan ini, kita memulai ibadah umrah. Janganlah melakukan larangan-larangan ihram sampai kita tahallul di Marwah. (Tidak lama! Paling lama 24 jam.)


MENUJU DAN MEMASUKI MAKKAH

1. Sejak memulai ibadah umrah sampai nanti masuk Masjid al-Haram, kita membaca talbiyah sesering mungkin, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri.
2. Batas Tanah Haram ditandai oleh Check-Point: Non-Muslim dilarang masuk.
3. Sesampai di Makkah, kita menuju pondokan atau hotel, mengurus barang, menyiapkan kamar, dan keperluan lainnya (mandi, makan, dsb.). AWAS, KITA MASIH BERIHRAM. Kalau mandi jangan memakai sabun, siapa tahu ada parfum. Jangan bertengkar, dan hindari segala heureuy!
4. Setelah cukup istirahat, kita menuju Masjid al-Haram. Sebaiknya kita sudah berwudu`, meskipun di Masjid al-Haram air berlimpah.
5. Usahakan masuk masjid lewat Babus-Salam. Jika jauh sehingga harus memutar atau situasi tidak memungkinkan, boleh lewat pintu mana saja.
6. Bacalah doa masuk masjid, serta doa ketika melihat Ka`bah. Jika tidak hafal atau terlupa, tidak apa-apa meskipun tidak membaca.
7. Kita segera menuju pelataran Ka`bah untuk melakukan thawaf.


T H A W A F

Thawaf adalah mengelilingi Ka`bah tujuh putaran, berlawanan arah dengan jarum jam (Ka`bah selalu di kiri kita), mulai dan berakhir di Hajar Aswad, dalam keadaan suci.

Hal-hal yang harus diperhatikan:
1. Hijir Ismail termasuk bagian Ka`bah yang harus ikut diputari.
2. Jika ragu mengenai jumlah putaran (misalnya apakah sudah 4 atau 5 putaran), selalu ambil yang terkecil (4).
3. Start dan finish setiap putaran harus pada Hajar Aswad.
4. Thawaf merupakan satu-satunya manasik haji atau umrah yang harus dilakukan dalam keadaan suci. Jika batal wudu`, segeralah wudu` lagi. Jika massa penuh sesak, boleh bertayamum di punggung orang.
5. Jika misalnya batal wudu` pada putaran ke-4, maka sesudah wudu` ulangi putaran ke-4 dari Hajar Aswad. Tiga putaran terdahulu sah (tidak usah diulang).

Catatan: Ka`bah berukuran 12 x 10,5 x 15 meter.
Jari-jari lapangan thawaf bervariasi dari 75 sampai 90 meter.

SUNNAH-SUNNAH THAWAF
(sedapat mungkin dikerjakan semua, tetapi jika tidak dikerjakan atau jika ada yang tertinggal thawaf kita tetap sah).
(1) Memberi hormat (istilam) kepada Hajar Aswad di setiap awal putaran, dengan salah satu cara berikut: mengecup Hajar Aswad, atau mengusapkan tangan kanan ke Hajar Aswad, atau melambaikan tangan kanan dari jauh ke arah Hajar Aswad, sambil mengucapkan Bismillah Wallahu Akbar.
(2) Khusus pria: bahu kanan terbuka (idhthiba’).
(3) Khusus pria: berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama ketika thawaf yang pertama kali saja.
(4) Mengucapkan doa, pujian kepada Allah, dan shalawat bagi Nabi. Kita bebas membaca apa saja yang kita mampu, tidak usah terikat pada bacaan tertentu.
(5) Mengusap Rukun Yamani atau melambaikan tangan dari jauh, sambil mengucapkan Bismillah Wallahu Akbar.
(6) Membaca Rabbana Atina fiddunya hasanah wa fil-akhirati hasanah waqina `adzaban-nar antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad.
(7) Selesai tujuh putaran, shalat sunnah dua rakaat di sekitar Maqam Ibrahim, dengan ayat Al-Kafirun dan Al-Ikhlash.
(8) Berdoa di Multazam (daerah antara Hajar Aswad dan Pintu Ka`bah).
(9) Minum air zamzam.


S A`I

Sa`i adalah bolak-balik antara Shafa dan Marwah tujuh kali, mulai dari Shafa dan berakhir di Marwah. (Shafa-Marwah berjarak 420 meter)

SUNNAH-SUNNAH SA`I
(1) Ketika menuju Shafa, bacalah Innash-shafa wal-marwata min sya`a’irillah dst.
(2) Di Shafa, kita menghadap Ka`bah, bertakbir tiga kali, lalu membaca doa.
(3) Selama melakukan sa`i kita berdoa, memuji Allah, bershalawat bagi Nabi. Bacaannya apa saja yang kita mampu.
(4) Khusus pria: berlari-lari kecil antara Masil dan Bait Aqil (antara dua tanda hijau).
(5) Di Marwah, kita menghadap Ka`bah, bertakbir tiga kali, lalu membaca doa.
(Shafa ke Hijau 1 100 meter; Hijau 1 ke 2 80 meter; Hijau 2 ke Marwah 240 meter)

TAHALLUL DI MARWAH

Setelah selesai thawaf dan sa`i, kita melakukan tahallul (menghalalkan larangan ihram) dengan bercukur atau menggunting rambut minimum tiga helai, dan SELESAILAH UMRAH KITA. Kita tidak lagi terikat pada larangan-larangan ihram. Kita boleh berpakaian bebas dan melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasa.

Sambil menunggu dimulainya ibadah haji tanggal 8 Dzulhijjah, kita mengisi waktu luang dengan memperbanyak ibadah, seperti sholat berjamaah dan thawaf sunnah di Masjid al-Haram, sholat sunnah di Hijir Isma’il, sholat tahajjud, membaca dan mengkaji Al-Qur’an, serta bershadaqah kepada fakir miskin. Jika sempat, kunjungilah tempat-tempat bersejarah seperti Gua Hira’ dan Gua Tsur. Ada baiknya kita secara berombongan meninjau medan haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina sambil memperdalam manasik (tatacara) haji yang akan kita lakukan.


IBADAH HAJI


8 Dzulhijjah (Hari Tarwiyah)

Pada pondokan di Makkah, kita kembali melakukan kegiatan menjelang berihram: mandi, membersihkan badan, dan memakai wangi-wangian. Pakailah pakaian ihram, lalu shalat sunnah ihram dua rakaat dengan ayat Al-Kafirun dan Al-Ikhlash.

Begitu kendaraan kita meninggalkan kota Makkah, ucapkanlah: LABBAIK ALLAHUMMA HAJJAN. Sejak kita mengucapkan ini, ibadah haji resmi dimulai. Janganlah melakukan larangan-larangan ihram sampai kita tahallul tanggal 10 Dzulhijjah. Selama masa berihram (paling lama 60 jam), bacalah talbiyah sesering mungkin, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri.

Sebagian besar jemaah haji langsung menuju ARAFAH (25 km dari Makkah), dan menginap di Arafah pada malam 9 Dzulhijjah. Jika memungkinkan, jemaah haji dianjurkan untuk melakukan sunnah-sunnah sebagai berikut:
1. Berangkatlah dari Makkah ke MINA (6 km dari Makkah) sebelum zuhur, dan menginap di Mina pada malam 9 Dzulhijjah.
2. Selama di Mina, shalat fardhu dilakukan secara qashar tanpa jama`: zuhur 2 rakaat, asar 2 rakaat, maghrib 3 rakaat, isya 2 rakaat, shubuh 2 rakaat.
3. Setelah terbit matahari 9 Dzulhijjah, berangkatlah ke Arafah (19 km dari Mina).
4. Jika sempat mampirlah di Namirah. Jika tidak sempat, langsung menuju kemah yang disediakan.


9 Dzulhijjah (Hari Arafah)

WUQUF, puncak acara haji, berlangsung sejak masuk waktu zuhur sampai terbenam matahari. Acara wuquf dimulai dengan mendengar khutbah, kemudian azan dan qamat, lalu shalat zuhur dua rakaat, kemudian qamat lagi, lalu shalat asar jama` taqdim dua rakaat.

Jangan menyia-nyiakan waktu wuquf yang singkat (cuma 6-7 jam). “Haji itu di Arafah,” sabda Nabi. Sambil menghadap kiblat, berdoalah dan memohonlah ampun kepada Allah atas segala dosa kita sebanyak mungkin. Ucapkanlah zikir dan pujian bagi Allah serta shalawat bagi Nabi, baik bersama-sama maupun sendiri-sendiri. Perbanyak membaca talbiyah, atau bacalah Al-Qur’an.

Setelah matahari terbenam, berangkatlah ke MUZDALIFAH (14 km dari Arafah). Talbiyah dan berdoa sebanyak mungkin. Sesampai di Muzdalifah, kita shalat maghrib jama` ta’khir serta shalat isya qashar, dengan satu azan dan dua qamat. Kalau ada waktu, kita mengumpulkan kerikil untuk melontar 49 butir (bagi yang ingin nafar awal) atau 70 butir (bagi yang ingin nafar tsani). Kalau waktu kita sedikit, kerikil bisa kita cari di Mina, tidak perlu dari Muzdalifah.

Berhenti di Muzdalifah merupakan kewajiban, meskipun cuma sebentar. Jika memungkinkan, kita disunnahkan untuk menginap di Muzdalifah. Setelah shalat shubuh, barulah kita berangkat ke Mina (5 km dari Muzdalifah). Jika kita berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina, disunnahkan untuk mempercepat langkah di lembah Muhasir (tempat pasukan gajah dimusnahkan burung Ababil).


10 Dzulhijjah (Hari Nahar)

Sesampai di Mina, kita langsung menuju Jumrah Aqabah (jangan mampir di Jumrah Ula dan Jumrah Wustha). Lontarlah Jumrah Aqabah dengan tujuh kerikil satu-persatu.
Sunnah-sunnah melontar: 1. Ucapkan ALLAHU AKBAR pada setiap lontaran.
2. Berdoa menghadap Ka`bah sehabis tujuh lontaran.

Kemudian kita melakukan TAHALLUL AWAL dengan bercukur atau menggunting rambut minimum tiga helai. Sesudah tahallul awal, kita boleh mengganti pakaian ihram dengan pakaian biasa, dan kita terbebas dari semua larangan ihram KECUALI YANG NOMOR SATU. (‘Yang nomor satu’ ini—kalau mau dan kalau sempat—hanya boleh dilakukan sesudah TAHALLUL AKHIR!)

Beberapa alternatif pilihan acara manasik
1. Jika memungkinkan, tanggal 10 Dzulhijjah kita menyembelih hewan. Jika tidak memungkinkan, penyembelihan boleh dilakukan pada hari-hari tasyriq (11 – 13 Dzulhijjah).
2. Jika memungkinkan, tanggal 10 Dzulhijjah kita ke Makkah melakukan thawaf ifadhah dan sa’i, lalu TAHALLUL AKHIR di Marwah. Jika tidak memungkinkan, thawaf ifadhah dan sa’i boleh dilakukan pada hari-hari tasyriq, atau sesudah kita pulang dari Mina asalkan masih dalam bulan Dzulhijjah.
3. Alternatif lain acara tanggal 10 Dzulhijjah: Dari Muzdalifah kita langsung ke Makkah, melakukan thawaf ifadhah dan sa’i, tahallul awal di Marwah, lalu kita ke Mina, melontar Jumrah Aqabah, tahallul akhir di Mina.

Apapun acara manasik yang kita pilih, pada malam 11 Dzulhijjah kita harus menginap di Mina, meskipun cuma sebagian malam.


11 Dzulhijjah (Hari Tasyriq)

Waktu luang di pagi hari boleh dimanfaatkan untuk menyembelih hewan bagi yang belum sempat melaksanakannya tanggal 10 Dzulhijjah.

Sesudah masuk waktu zuhur, kita melontar secara berturut-turut Jumrah Ula, lalu Jumrah Wustha, akhirnya Jumrah Aqabah, masing-masing tujuh lontaran. Jarak dari Jumrah Ula ke Wustha 500 meter, dan dari Wustha ke Aqabah 400 meter. Berdoalah sesudah melontar Jumrah Ula dan Jumrah Wustha, tetapi segera pergi (jangan berdoa) sesudah melontar Jumrah Aqabah.

Bagi orang yang sakit, lemah, lanjut usia, anak-anak atau wanita hamil, pelontaran jumrah boleh diwakilkan kepada orang lain. Orang yang mewakili segera melontar untuk yang diwakili, pada setiap jumrah, sesudah melontar untuk dirinya sendiri.

Jika tidak sempat melontar jumrah pada siang hari, pelontaran boleh diundurkan sampai sore atau malam hari.

Kita harus menginap di Mina malam 12 Dzulhijjah, meskipun cuma sebagian malam.


12 dan 13 Dzulhijjah (Hari Tasyriq)

Waktu luang di pagi hari boleh dimanfaatkan untuk menyembelih hewan bagi yang belum sempat melaksanakannya tanggal 10 atau 11 Dzulhijjah. Sesudah masuk waktu zuhur, kita kembali melontar tiga jumrah dengan cara persis seperti tanggal 11 Dzulhijjah.

Setelah melontar, pada 12 Dzulhijjah sore, kita boleh melakukan NAFAR AWAL (artinya “pulang duluan”), yaitu meninggalkan Mina pulang ke Makkah. Mereka yang ingin nafar awal harus sudah berada di luar Mina sebelum maghrib. Jika saat maghrib masih di Mina, mereka harus mengambil NAFAR TSANI (“pulang rombongan kedua”), yaitu menginap lagi di Mina, dan melontar lagi tiga jumrah tanggal 13 Dzulhijjah, baru pulang ke Makkah.


Acara manasik di Makkah setelah pulang dari Mina

Sesampai di Makkah, mereka yang belum melakukan thawaf ifadhah dan sa`i harus segera melaksanakannya, lalu TAHALLUL AKHIR di Marwah.

Akhirnya, ketika kita hendak meninggalkan Makkah, untuk pergi ke Jeddah (bagi Gelombang Pertama) atau pergi ke Madinah (bagi Gelombang Kedua), lakukanlah THAWAF WADA’ (thawaf perpisahan). Wanita haid dan melahirkan dibebaskan dari kewajiban thawaf wada’. Berdoalah kepada Allah agar kita diberi kesempatan untuk kembali ke Baitullah pada masa-masa mendatang. Setelah melakukan thawaf wada’, kita jangan lagi memasuki Masjid al-Haram.

Dengan demikian rampunglah sudah seluruh rangkaian ibadah haji kita. Mudah-mudahan Allah menjadikan haji kita HAJI YANG MABRUR (BERMUTU). Allaahumma j`alhu hajjan mabruuraa, wa sa`yan masykuuraa, wa dzanban maghfuuraa. Amien ya Rabbal-`Alamien.***

Penulis adalah salah seorang pembina Masjid Salman ITB, Bandung, yang cukup berpengalaman membimbing haji dan umrah. Kumpulan artikel penulis tentang haji telah dibukukan dengan judul BACAAN JEMAAH HAJI, Penerbit Kiblat Buku Utama, Bandung, 2007.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home