Monday, February 16, 2009

Rancage dan Sastra Lampung

RANCAGE 2009 UNTUK LAMPUNG DITIADAKAN

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Hadiah Sastra Rancage 2009 tidak diberikan kepada penulis sastra bahasa Lampung. Pasalnya selama 2008 tidak ada buku sastra berbahasa Lampung yang diterbitkan.
"Batas penjurian, 25 Januari lalu, panitia tidak menerima buku sastra dari Lampung. Para juri tidak bisa menunggu lebih dari 25 Januari sehingga beranggapan tidak ada buku sastra berbahasa Lampung," kata Sekretaris Yayasan Kebudayaan Rancage Hawe Setiawan, yang dihubungi melalui telepon, kemarin (3-2).
Menurut Hawe, jika memang ada karya sastra berbahasa Lampung yang diterbitkan pada 2008, akan diikutkan penjurian Hadiah Sastra Rancage tahun 2010. Hawe berharap kesalahan teknis ini tidak mengganggu kontinuitas penerbitan sastra Lampung. "Sangat disayangkan tidak ada penulis Lampung yang mendapat Hadiah Sastra Rancage 2009," kata dia.
Tahun sebelumnya, Yayasan Kebudayaan Rancage menganugerahkan Hadiah Sastra Rancage kepada sastrawan Lampung Udo Z. Karzi. Udo mendapat Hadiah Sastra Rancage 2008 atas kumpulan sajaknya, Mak Dawah Mak Dibingi (BE Press, 2007).

Disesalkan
Budayawan Lampung Irfan Anshory menyesalkan terjadinya kesalahan teknis dalam pengiriman karya sastra Lampung ke panitia Hadiah Sastra Rancage. Kesalahan teknis tersebut mengakibatkan lepasnya Hadiah Sastra Rancage dari Lampung.
Menurut Irfan, ada dua karya sastra berbahasa Lampung yang terbit tahun 2008, yaitu kumpulan cerita pendek berjudul Cerita-Cerita jak Bandar Negeri Semuong karya Asarpin Aslami dan kumpulan sajak berjudul Di Lawok Nyak Nelepon Pelabuhan karya Oky Sanjaya.
Irfan mengatakan agar kesalahan teknis tidak terulang tahun depan, penerbit jangan sampai terlambat menerbitkan buku sastra Lampung. Penerbitan buku harus dilakukan sebelum 31 Januari karena pada tanggal tersebut sudah diumumkan peraih Hadiah Sastra Rancage oleh Yayasan Kebudayaan Rancage. "Penerbit juga jangan sampai terlambat mengirimkan karya sastra ke juri Hadiah Sastra Rancage," kata Irfan.
Irfan berharap Hadiah Sastra Rancage tahun 2010 dapat kembali diraih sastrawan Lampung.

Peraih Rancage 2009
Hadiah Sastra Rancage 2009 adalah ke-21 kali penghargaan itu diberikan. Pertama kali diberikan tahun 1989, khusus kepada sastrawan yang menulis dalam bahasa Sunda.
Tetapi, sejak 1994 para sastrawan yang menulis dalam bahasa Jawa juga mendapat Hadiah Sastra Rancage. Dan sejak 1997, para sastrawan yang menulis dalam bahasa Bali. Tahun 2008 sastrawan yang menulis dalam bahasa Lampung juga mendapatkan Hadiah Sastra Rancage.
Penerima Hadiah Sastra Rancage 2009 sastrawan dan tokoh atau lembaga yang dianggap besar jasanya dalam memelihara dan mengembangkan bahasa ibu. Mereka adalah Etti R.S. dengan buku kumpulan sajak Serat Panineungan (untuk karya dalam bahasa Sunda) dan Nano S. atas jasanya mengembangkan bahasa Sunda, terutama melalui lagu-lagu karawitan ciptaannya.
Kemudian S. Danusubroto dengan buku roman berjudul Trah (untuk bahasa Jawa). Sedangkan tokohnya, Sunarko Budiman, penulis dan pengelola Sanggar Sastra Jawa Triwida.
Untuk sastra bahasa Bali, Hadiah Sastra Rancage diberikan kepada I Nyoman Tusthi Eddy atas buku kumpulan sajak berjudul Somah. Sedangkan yang terpilih untuk diberi Hadiah Sastra Rancage 2009 untuk jasa dalam bahasa dan sastra Bali adalah I Nengah Tinggen, penyusun buku pedoman pemakaian aksara Bali dan telah menulis 40 judul buku dalam bahasa Bali.
Khusus untuk bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda, Yayasan Kebudayaan Rancage memberikan Hadiah Samsudi 2009 kepada Aan Merdeka Permana yang menulis buku Sasakala Bojongemas.
Setiap penerima Hadiah Sastra Rancage selain mendapat piagam juga uang Rp5 juta. Sedangkan Hadiah Samsudi berupa piagam dan uang Rp2,5 juta. Penyerahan hadiah dilaksanakan dalam suatu upacara khusus yang akan diselenggarakan di Jakarta. Tempat dan waktunya akan ditetapkan kemudian.

Sumber: Lampung Post, Rabu, 4 Februari 2009


WACANA: RANCAGE, SASTRA DAN BUDAYA LAMPUNG

oleh Udo Z.Karzi

TAHUN yang lalu, Hadiah Sastra Rancage juga diberikan kepada sastrawan yang menerbitkan buku dalam bahasa Lampung. Ternyata seperti yang kami khawatirkan, usaha penerbitan dalam bahasa Lampung itu tidak dapat dilaksanakan secara kontinu. Dalam 2008, tak ada buku yang terbit dalam bahasa Lampung, sehingga untuk Hadiah Sastra Rancage 2009 hadiah untuk bahasa Lampung tidak dapat diberikan. Kekhawatiran seperti itu sebenarnya wajar karena penerbitan buku bahasa ibu dalam bahasa Sunda, Jawa, dan Bali juga--walaupun ada saja yang terbit setiap tahun--bukanlah usaha yang menjanjikan hari depan secara bisnis. Karena itu ketika beberapa waktu yang lalu kami diberitahu bahwa ada buku yang terbit dalam bahasa Madura, kami tidak segera menyambutnya dengan menyediakan Hadiah Sastra Rancage buat pengarang dalam bahasa Madura. Kami khawatir terjadi lagi apa yang sudah terjadi dengan bahasa Lampung.
(Petikan Keputusan Hadiah Sastera Rancage 2009 yang ditandatangani Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi).

Dan, lonceng kematian (semoga sementara) itu berbunyi: Hadiah Sastra Rancage 2009 untuk Lampung tidak diberikan kepada pengarang Lampung. Saya sungguh terpukul dengan kabar buruk ini. Dalam bahasa Irfan Anshory, ulun Lampung yang kini tinggal di Bandung, "Malu kita!"
Untungnya Sekretaris Yayasan Kebudayaan Rancage sedikit memberikan hiburan dengan mengatakan, jika ada terbitan buku sastra berbahasa Lampung terbit 2008, bisa diikutkan Rancage 2010. Dia berharap kesalahan teknis ini tidak mengganggu kontinuitas penerbitan sastra Lampung.

Lalu, saya pun tenggelam dalam dunia idealisasi bagaimana seharusnya mengembangkan sastra berbahasa Lampung. Buku Mak Dawah Mak Dibingi (BE Press, 2007) dan Hadiah Sastra Rancage 2008 sebenarnya hanyalah pintu masuk saja bagi sebuah upaya memperjuangkan keberadaan bahasa dan sastra Lampung. Setelah ini, para seniman (sastrawan) Lampung dalam arti sastrawan yang menggunakan bahasa Lampung sebagai media kreativitasnya, harus tetap berupaya melahirkan karya-karya sastra berbahasa Lampung. Minimal dua dalam setahun.

Saya sangat berharap setelah Hadiah Sastra Rancage 2008 diberikan kepada sastra Lampung, kehidupan sastra berbahasa Lampung semakin bertambah dinamis. Paling tidak, ada semacam kebangkitan sastra berbahasa Lampung seiring dengan tumbuhnya "kepercayaan diri" penutur bahasa Lampung bahwa ternyata bahasa Lampung bisa bergaya, bahasa Lampung bisa berdaya, dan bahasa Lampung bisa modern. Bahwa bahasa Lampung bisa menjadi media ekspresi imajinatif-kreatif, sehingga bisa melahirkan karya sastra sebagaimana bahasa-sastra Sunda, Jawa, dan Bali.

Sejak awal--katakanlah semenjak terbitnya buku puisi dwibahasa Lampung-Indonesia, Momentum (2002)--sebenarnya saya mengajak orang Lampung untuk menulis sastra dalam bahasa ibunya: bahasa Lampung. Tapi, betapa sulitnya karena kebanyakan orang Lampung (bersuku Lampung), terutama kaum muda justru sulit berbicara bahasa Lampung. Berbicara saja susah, apalagi hendak menjadi penulis sastra berbahasa Lampung.

Yang terjadi kemudian adalah betapa orang Lampung semakin gencar mementaskan sastra (tradisi) lisan Lampung. Berbagai proyek pun digelar semacam pelatihan sastra lisan Lampung. Saya sih setuju saja, tetapi saya hanya menyayangkan para seniman Lampung lebih asyik-masyuk dengan tradisi kelisanan itu. Ada juga yang mendokumentasikan sastra tradisi lisan itu dalam bentuk rekaman atau buku.

Namun, tradisi kepenulisan sastra berbahasa Lampung tak bergerak-gerak juga. Dengan latar itulah, saya menulis dengan bahasa Lampung. Setidaknya, ini sebuah upaya saja agar bahasa Lampung tak benar-benar terkubur.

Sebenarnya tidak ada kendala dalam menulis karya sastra Lampung. Masalahnya lebih terkait dengan masalah komitmen untuk--sebenar-benarnya--mengembangkan bahasa-sastra-budaya Lampung. Mana bisa membangun bahasa-sastra-budaya Lampung dengan sikap yang kelewat pragmatis, materialistis, serta penuh dengan perhitungan untung-rugi atau dengan mental "saya harus mendapatkan sesuatu kerja ini".

Wah, menerbitkan buku sastra berbahasa Lampung itu dijamin rugi. Tapi, dalam jangka panjang buku sastra Lampung itu mempunyai nilai strategis bagi perjalanan bahasa-budaya Lampung itu. Tapi, kebanyakan kita tidak mau berpikir ke arah sana.

Saya berharap bahasa Lampung tetap eksis, berkembang, dan mampu menjadi bahasa kreasi bagi penuturnya. Saya yakin bisa asal ada upaya yang sungguh-sungguh untuk menjaga, melestarikan, memberdayagunakan, dan membuat bahasa Lampung lebih bergengsi. Sebab, bahasa Lampung adalah penopang utama kebudayaan Lampung. Kalau bahasa Lampung punah jelas pula yang disebut kebudayaan Lampung kiamat.

Yayasan Kebudayaan Rancage memutuskan memberikan penghargaan kepada sastra Lampung tahun 2008 dengan harapan agar kehidupan sastra (berbahasa) Lampung menjadi lebih dinamis. Setelah Hadiah Sastra Rancage 2008 diberikan kepada Mak Dawah Mak Dibingi, tidak bisa tidak setiap tahun harus ada buku sastra Lampung yang masuk penilaian Rancage. Sebab, sejak 2008 Yayasan Kebudayaan Rancage akan rutin memberikan Hadiah Rancage untuk sastra empat bahasa Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung. Dengan kata lain, tidak ada pilihan lain, Lampung harus menerbitkan buku sasta Lampung minimal dua buku satu tahun. Tidak boleh putus.

Karena itu, pemda, penerbit buku, perguruan tinggi, usahawan, sastrawan, dan masyarakat Lampung harus benar-benar mau menyisihkan waktu, tenaga, dan dana untuk membangun tradisi baru bahasa dan sastra Lampung: menulis dan menerbitkan sastra Lampung!

Saya masih berharap masih ada "orang gila" dalam arti mau menerbitkan buku sastra Lampung dengan segala risikonya. Saya tengah menanti!*

Udo Z. Karzi, buku puisinya Mak Dawah Mak Dibingi (2007) menerima Hadiah Sastra Rancage 2008

Sumber: Lampung Post, Minggu, 8 Februari 2009


PEMDA KURANG DUKUNG SASTRA LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Kalangan sastrawan Lampung menilai lepasnya Hadiah Sastra Rancage tahun 2009 disebabkan kurangnya dukungan pemerintah daerah terhadap sastra berbahasa Lampung.
Sastrawan Lampung Y. Wibowo mengatakan lepasnya Hadiah Sastra Rancage tahun 2009 karena masih rendahnya dukungan pemerintah daerah melalui dinas terkait terhadap perkembangan sastra Lampung. Pemerintah daerah belum mau mengangkat sastra Lampung untuk dipromosikan ke tingkat nasional.
"Pemerintah daerah mestinya mendorong sastrawan dan budayawan Lampung untuk terus berkarya bagi perkembangan sastra Lampung," kata Direktur BE Press, penerbit yang konsen dengan khazanah lokal Lampung.
Wibowo menilai karya sastra berbahasa Lampung yang dihasilkan sastrawan Lampung selama tahun 2009 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Penghargaan Rancage 2008 untuk sastrawan Lampung ternyata mampu memotivasi sastrawan lain untuk terus berkarya.
Tidak diperolahnya Rancage 2009 disebabkan keterlambatan mengirimkan karya sastra berbahasa Lampung. Selama 2008 dan awal 2009, ada dua karya sastra berbahasa Lampung yang sudah diterbitkan. Namun, karena kesalahan teknis, Panitia Hadiah Sastra Rancage tidak menerima terbitan karya sastra berbahasa Lampung.
Menurut Wibowo, Hadiah Sastra Rancage tahun 2008 yang diraih sastrawan Lampung Udo Z. Karzi merupakan sebuah prestasi penting. Selama lebih dari 20 tahun Hadiah Sastra Rancage diadakan, Lampung merupakan daerah pertama yang mendapat hadiah sastra tersebut di luar Jawa dan Bali.
Wibowo juga mengatakan kalangan sastrawan juga harus terus mewacanakan pentingnya sastra dan budaya bagi sebuah daerah. Para pengambil kebijakan harus terus didorong untuk peduli dan perhatian kepada sastra dan budaya Lampung. "Para pengambil kebijakan harus disadarkan agar peduli pada perkembangan sastra dan budaya," ujarnya.
Penyair Lampung, Panji Utama, mengatakan pemerintah sudah seharusnya berperan aktif dalam melestarikan sastra dan budaya Lampung dengan menerbitkan sastra berbahasa Lampung. Panji menilai perhatian pemda terhadap sastra dan budaya masih sangat kurang. Selain kurangnya perhatian pemda, kata Panji, sudah seharusnya Lampung memiliki penerbit yang secara berkelanjutan menerbitkan sastra berbahasa Lampung. "Para penerbit belum tertarik untuk menerbitkan karya sastra berbahasa Lampung," ujarnya.
Direktur Jung Foundation Christian Heru Cahyo juga menilai Pemerintah Provinsi Lampung belum berperan optimal dalam pengembangan sastra dan budaya Lampung. Pemprov tidak mau membantu sastrawan dalam menerbitkan karya sastra berbahasa Lampung.
Menurut Christian, adanya penghargaan Hadiah Sastra Rancage seharusnya membuat pemerintah daerah berusaha agar penghargaan tersebut jatuh ke Lampung. Panitia Hadiah Sastra Rancage telah melirik sastra Lampung. Namun, pemerintah daerah belum menempatkan sastra dan budaya Lampung sebagai sebuah potensi.
"Pemerintah Provinsi Lampung terlalu sibuk dengan program Visit Lampung Year. Tapi, tidak ada hal nyata yang dilakukan untuk melestarikan sastra dan budaya Lampung," kata Christian.

Sumber: Lampung Post, Selasa, 10 Februari 2009


SASTRAWAN LAMPUNG HARUS BERSATU

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Sastrawan Lampung harus duduk bersama dan bersatu agar sastra dan budaya Lampung menjadi terangkat ke pentas nasional. Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Komite Tradisi Dewan Kesenian Lampung Syapril Yamin menanggapi kegagalan Lampung mendapat Hadiah Sastra Rancage 2009.
Syapril mengatakan Lampung banyak memiliki sastrawan daerah dan nasional. Para sastrawan Lampung harus duduk bersama membahas bagaimana sastra dan budaya Lampung ke depan. Akan dibawa ke mana sastra dan budaya daerah Lampung.
Syapril masih melihat para sastrawan Lampung tidak bersatu dan masih jalan sendiri-sendiri. "DKL, Unila, dan komunitas sastra lain masih jalan masing-masing." Menurut Syapril, tidak ada harmonisasi antar sastrawan Lampung. Masih ada istilah "tok nyak kidang dang niku", yang artinya "bukan saya tapi jangan kamu", di kalangan sastrawan Lampung. Masih kentalnya egoisme di kalangan sastrawan membuat tidak adanya rasa saling dukung. Sikap seperti itu harus dihilangkan di benak sastrawan. "Jika ada seorang sastrawan maju mewakili nama Lampung harusnya didukung, bukan dijatuhkan," kata Syapril.

Semangat Jangan Kendur
Pengamat sastra Lampung Kuswinarto, saat dihubungi melalui telepon, mengatakan lepasnya Hadiah Sastra Rancage tahun 2009 yang disebabkan kesalahan teknis harusnya tidak memengaruhi semangat sastrawan Lampung untuk terus berkarya. Semangat terus berkarya dalam bahasa Lampung jangan sampai kendur.
Kuswinarto mengaku sangat menyayangkan lepasnya Hadiah Sastra Rancage 2009 disebabkan kesalahan teknis. "Harus dipertanyakan apakah panitia terlambat menerima karya sastra berbahasa Lampung atau memang karya sastra berbahsa Lampung tidak dipublikasikan secara luas." Dia menilai adanya Hadiah Sastra Rancage belum membuat sastrawan Lampung aktif berkarya dengan bahasa daerahnya. Hal itu bisa disebabkan tidak adanya media khusus yang memublikasikan karya sastra berbahasa Lampung.
Keberadaan media publikasi ini sangat penting. Adanya media yang mewadahi kreativitas sastrawan Lampung diharapkan bisa menggenjot produktivitas karya berbahasa daerah. "Harus ada upaya untuk membuat media publikasi sehingga mampu menarik sastrawan untuk menulis karya berbahasa Lampung," kata dia.
Upaya lain yang harus dilakukan, kata Kuswinarto, adalah mengoptimalkan mata pelajaran muatan lokal bahasa Lampung di sekolah-sekolah. Melalui muatan lokal Bahasa Lampung, para siswa dapat belajar menulis dan berbahasa daerah. Pelajaran muatan lokal harus dimanfaatkan dengan baik untuk membudayakan kembali bahasa Lampung.

Sumber: Lampung Post, Jumat, 13 Februari 2009


MENANGISI RANCAGE YANG LEPAS

oleh
Agus Sri Danardana


Kita memang pantas menangisi Rancage yang lepas. Namun, kita akan lebih tersedu jika sastra Lampung tidak memiliki pembaca.

BERITA tentang tidak diberikannya hadiah sastra Rancage kepada sastrawan Lampung tahun 2009 telah menimbulkan keprihatinan mendalam banyak pihak. Tidak terkecuali Udo Z. Karzi dan Y. Wibowo (masing-masing penulis dan direktur penerbit Mak Dawah Mak Dibingi, kumpulan puisi berbahasa Lampung penerima hadiah sastra Rancage tahun 2008) serta Panji Utama dan Christian Heru Cahyo pun melontarkan keprihatinannya. Menurut mereka, penyebab utama lepasnya hadiah sastra Rancage untuk sastrawan Lampung pada tahun 2009 ini adalah ketiadaan dukungan pemerintah daerah dalam penerbitan buku-buku sastra Lampung (Lampung Post, 8 dan 10 Februari 2009).

Ketiadaan dukungan pemerintah daerah dalam penerbitan buku-buku sastra Lampung itu, jika benar, memang pantas disayangkan. Apalagi hadiah sastra Rancage memang diberikan hanya untuk sastrawan yang telah memublikasikan karyanya dalam bentuk buku sehingga dalam konteks ini penerbitan buku menjadi sangat penting dan menentukan: Tiada buku, tiada Rancage.

Terlepas dari hal itu, menurut saya, ada hal lain yang lebih penting daripada sekadar menerbitkan buku: Menumbuhkan tradisi baca-tulis masyarakat. Saya khawatir, jika tradisi baca-tulis masyarakat belum terbentuk, penerbitan buku (yang mendapat hadiah [seperti Rancage] sekalipun, tidak akan memiliki makna yang berarti.

Tanpa bermaksud jelek (negatif), saya bercuriga, jangan-jangan buku Udo Z. Karzi, Mak Dawah Mak Dibingi, yang mendapat hadiah sastra Rancage itu, di samping tidak dibaca, juga tidak dikenal oleh banyak orang. Penyebabnya jelas bukan karena buku itu belum terbit atau tidak bermutu, melainkan karena tradisi baca-tulis masyarakat (Lampung) masih rendah.

Rendahnya tradisi baca-tulis sebenarnya tidak hanya terjadi di Lampung. Daerah lain yang masyarakatnya relatif masih setia menggunakan bahasa daerahnya, seperti Sunda, Jawa, dan Bali, pun mengalaminya. Bedanya, mungkin di daerah lain tradisi baca-tulis itu sudah (pernah) terwujud, sedangkan di Lampung tradisi baca-tulis itu belum terwujud. Barangkali itulah sebabnya sastra Sunda, Jawa, dan Bali selalu diterbitkan: Bukan semata-mata dimaksudkan untuk memperoleh hadiah sastra Rancage, melainkan memang dibutuhkan masyarakat untuk dibaca.

***
Salah satu penyebab rendahnya tradisi baca-tulis bahasa Lampung adalah ketiadaan media. Dalam hal ini sebenarnya Lampung bisa mencontoh Sunda, Jawa, dan Bali. Setidaknya ada empat media (majalah) berbahasa Sunda: Mangle, Cupumanik, Balebat, dan Salaka; empat media berbahasa Jawa: Panyebar Semangat, Jaya Baya, Damarjati, dan Parikesit; serta dua media berbahasa Bali: Canang Sari dan Buratwangi yang masih terbit hingga kini. Dulu, bahkan pernah terbit pula surat kabar Dharma Kandha dan Dharma Nyata serta majalah Djoko Lodhang dan Mekar Sari di Surakarta dan Yogyakarta. Bahkan, beberapa sekolah, kampus, yayasan, dan pemkab/pemkot di ketiga daerah itu juga memiliki buletin berbahasa daerah.

Di samping itu, masyarakat Sunda, Jawa, dan Bali secara periodik juga masih mau menggelar berbagai kegiatan kebahasaan dan kesastraan daerah. Media-media itulah yang membuktikan bahwa bahasa Sunda, Jawa, dan Bali masih digunakan secara intensif, baik lisan maupun tulisan, oleh masyarakatnya.

Bagaimana dengan bahasa Lampung? Di sinilah masalahnya. Hingga kini tak satu pun media berbahasa Lampung terbit. Di harian Lampung Post dulu pernah ada rubrik Pah Bubasa Lappung, tetapi entah apa penyebabnya rubrik itu pun mati beberapa saat setelah Program Studi Bahasa Lampung di Unila ditutup. Kini satu-satunya publikasi (ber)bahasa Lampung adalah melalui RRI Bandar Lampung, yang tentu saja tidak dapat secara signifikan mendorong tumbuhnya tradisi baca-tulis.

Untuk mengatasi masalah ini sebenarnya pemda (baik pemprov, pemkab, maupun pemkot) memiliki peluang besar. Di samping sudah ada Permendagri Nomor 40 Tahun 2007 tentang Pedoman bagi Kepala Daerah dalam Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Negara dan Bahasa Daerah, Lampung juga sudah memiliki Perda Nomor 2 Tahun 2008 tentang Pemeliharaan Kebudayaan Lampung.

Artinya, pemda memiliki landasan hukum yang kuat untuk melakukan berbagai kegiatan yang terkait dengan pelestarian dan pengembangan bahasa daerah (dalam hal ini menumbuhkan tradisi baca-tulis bahasa Lampung), baik dari segi kebijakan maupun penganggaran. Misalnya, sebagai langkah awal, pemda dapat mendorong dan/atau mengintruksi semua media massa cetak di Lampung untuk membuka rubrik (ber)bahasa Lampung seperti yang pernah dilakukan Lampung Post.

Media massa cetak di Lampung sebenarnya juga teruntungkan jika kebijakan ini dilakukan. Di samping dapat turut serta menumbuhkan tradisi baca-tulis masyarakat (Lampung), media massa juga dapat mengolah rubriknya menjadi salah satu bentuk promosi untuk meningkatkan pangsa pasarnya. Meskipun belum terbukti, saya yakin masyarakat Lampung akan menyambut baik adanya rubrik itu. Khusus untuk Lampung Post, kesempatan ini jangan disia-siakan. Insyaallah suplemen (ber)bahasa Lampung akan mendapat sambutan hangat masyarakat Lampung.

Begitulah, kita memang pantas menangisi Rancage yang lepas karena pada tahun 2008 tidak (belum) ada sastra Lampung yang ditulis dan diterbitkan. Namun, saya yakin, kita akan lebih tersedu jika sastra Lampung tidak memiliki pembaca.*

Agus Sri Danardana, Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Sumber: Lampung Post, Minggu, 15 Februari 2009

Tuesday, February 3, 2009

Hadiah Sastera "Rancage" 2009

KEPUTUSAN HADIAH SASTERA “RANCAGÉ” 2009


Penyerahan Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 adalah yang ke-21 kalinya diberikan kepada para sasterawan yang menulis dalam bahasa-bahasa ibu. Pertama kali pada tahun 1989, diberikan hanya kepada sasterawan yang menulis dalam bahasa Sunda. Tetapi sejak 1994 para sasterawan yang menulis dalam bahasa Jawa juga mendapat hadiah sastera “Rancagé”. Dan sejak 1997, para sasterawan yang menulis dalam bahasa Bali juga mendapat hadiah “Rancagé”. Pada tahun pertama, hadiah “Rancagé” hanya diberikan kepada sasterawan yang menerbitkan buku unggulan. Tetapi sejak tahun kedua, hadiah untuk karya itu didampingi oléh hadiah untuk jasa, yang diberikan kepada orang atau lembaga yang dianggap besar jasanya dalam memelihara serta mengembangkan bahasa ibunya. Dengan demikian setiap tahun Yayasan Kebudayaan “Rancagé” mengeluarkan enam hadiah untuk tiga bahasa ibu, yaitu Bali, Jawa dan Sunda. Di samping itu kadang-kadang memberikan Hadiah “Samsudi” buat pengarang yang menerbitkan buku bacaan anak-anak unggulan dalam bahasa Sunda.
Alhamdulillah dengan ridho Allah dan uluran tangan para dermawan yang menyadari pentingnya bahasa ibu dan sasteranya dalam kehidupan bangsa, tahun ini juga Hadiah Sastera “Rancagé” akan disampaikan kepada para sasterawan yang menulis dalam bahasa ibu.
Tahun yang lalu, Hadiah Sastera “Rancagé” juga diberikan kepada sasterawan yang menerbitkan buku dalam bahasa Lampung. Ternyata seperti yang kami kuatirkan, usaha penerbitan dalam bahasa Lampung itu tidak dapat dilaksanakan secara kontinyu. Dalam tahun 2008, tak ada buku yang terbit dalam bahasa Lampung, sehingga untuk Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 hadiah untuk bahasa Lampung tidak dapat diberikan.
Kekuatiran seperti itu sebenarnya wajar, karena penerbitan buku bahasa ibu dalam bahasa Sunda, Jawa dan Bali juga - walaupun ada saja yang terbit setiap tahun — bukanlah usaha yang menjanjikan haridepan secara bisnis. Karena itu ketika beberapa waktu yang lalu kami diberitahu bahwa ada buku yang terbit dalam bahasa Madura, kami tidak segera menyambutnya dengan menyediakan Hadiah Sastera “Rancagé” buat pengarang dalam bahasa Madura. Kami kuatir terjadi lagi apa yang sudah kejadian dengan bahasa Lampung. Di samping itu kami juga harus sadar bahwa kian bertambahnya Hadiah “Rancagé” yang diberikan, maka beban yang kami tanggung juga kian berat. Sampai sekarang seperti pernah kami katakan, kami masih “koréh-koréh cok” (mengais-ngais dulu mencari rémah sebelum mencotok). Alhamdulillah sampai sekarang setiap tahun ada saja dermawan yang sadar akan pentingnya memelihara bahasa ibu yang sebenarnya merupakan kekayaan budaya bangsa kita, sehingga Hadiah Sastera “Rancagé” masih dapat diberikan.
Setelah selama 20 tahun pemberian Hadiah “Rancagé” selalu mendapat tempat dalam pérs, namun tidak pernah mendapat perhatian pemerintah baik pusat maupun daérah, pada akhir tahun 2008, Yayasan Kebudayaan “Rancagé” bersama-sama dengan beberapa seniman dan organisasi kesenian lain, mendapat “panyecep” dari Gubernur Jawa Barat (Rp. 10 juta dipotong pajak 15%).

Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk sastera Sunda

Menjelang akhir tahun 2007, tiba-tiba saja kelihatan kesibukan yang tidak biasa dalam penerbitan buku basa Sunda. Penerbit dan bukan penerbit yang selamanya tidak menaruh perhatian terhadap penerbitan buku dalam bahasa Sunda, tiba-tiba saja mencari naskah Sunda untuk diterbitkannya. Para pengarang dikejar agar segera menyiapkan naskah. Dalam waktu singkat terbit buku-buku bacaan, terutama untuk anak-anak. Tetapi penerbitan itu luar biasa, karena kebanyakan tidak dicétak dalam jumlah yang wajar untuk disebarkan ke pasar melalui toko-toko buku. Kebanyakan yang meréka terbitkan hanyalah sejumlah éksemplar sekedar untuk dijadikan contoh buat proyék pembelian buku bahasa ibu yang konon jumlahnya puluhan milyar. Kalau bukunya terpilih untuk dipesan oléh proyék, barulah akan dicétak sebanyak yang diperlukan. Jadi tujuannya bukanlah menyediakan buku bacaan dalam bahasa Sunda untuk masyarakat, melainkan untuk mendapat bagian dari dana proyék yang disediakan oléh pemerintah. Ternyata proyék itu konon dibatalkan, maka penerbitan buku dalam bahasa ibu Sunda pun kembali sepi.
Kalau dalam tahun 2007 terbit 32 judul buku bahasa Sunda (di luar cétak ulang), sehingga ada 13 judul yang dipertimbangkan untuk memperoléh Hadiah Sastera “Rancagé” 2008, maka dalam tahun 2008 hanya terbit 10 judul buku baru. Tapi tidak semua masuk jenis buku yang dipertimbangkan untuk dinilai untuk mendapat Hadiah “Rancagé”, seperti The People’s Religion (penerbitan dwibahasa yaitu dalam bahasa Sunda dan Inggris yang merupakan transkripsi dari da’wah-da’wah Ajengan A. F. Ghazali almarhum, disusun ku Julian Mille). Begitu juga Luang keur nu Ngarang yang disusun oléh Hawé Setiawan dan Dadan Sutisna bagi meréka yang berminat untuk belajar mengarang. Di samping itu ada cétak ulang, ialah Nu Kaul Lagu Kaléon karya RAF, Bayan Budiman karya M.K. Mangoendikaria, Janté Arkidam karya Ajip Rosidi dan Album Carpon Purnama di Karanghawu karya Aan Merdéka Permana. Ada pula empat buku karya Ajip Rosidi, tiga di antaranya berupa cerita carangan wayang Cirebon (Dorna Ngabasmi Komunisme, Si Cépot Hayangeun Kawin dan Bagal Buntung Hayangeun Walagri) dan sebuah lagi berupa kumpulan lelucon (Seuri Leutik). Seperti telah berkali-kali dijelaskan, buku cétak ulang dan karangan Ajip Rosidi tidak termasuk yang dinilai untuk memperoléh Hadiah “Rancagé”.
Maka buku bahasa Sunda yang tahun ini dinilai untuk memperoléh Hadiah “Rancagé” 2009 hanya empat judul ialah Layung kumpulan cerita péndék Aam Amilia, Rusiah Kaopatwelas kumpulan cerita péndek Darpan, Élégi Patani kumpulan sajak Arie Suhanda dan Serat Panineungan kumpulan sajak Étti RS.
Dalam Layung dimuat 10 cerita péndék Aam yang ditulis dalam tahun 2004-2008. Secara umum kesepuluh cerita itu tidak mempunyai plastisitas bahasa dan spontanitas seperti dalam cerita-cerita yang ditulis Aam pada awal kariérnya sebagai pengarang. Akhir cerita yang dimaksudkan menjadi “surprise” tidak lagi mengejutkan karena sudah dapat ditebak dari awal.
Rusiah Kaopatwelas memuat lima belas cerita péndék Darpan yang dibagi menjadi dua kelompok. Yang pertama “Si Iblis” memuat 8 cerita péndek, sedangkan kelompok kedua “Rusiah Kaopatwelas” memuat 7 cerita péndék. Semua cerita yang dimuat dalam “Si Iblis” berlatarbelakang kehidupan orang-orang di pedésaan bagian Utara Jawa Barat, sekitar Karawang, seperti cerita-cerita yang dimuat dalam kumpulan cerita péndéknya yang pertama Nu Harayang Dihargaan yang mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 1999. Sedang cerita-cerita yang dimuat dalam kelompok “Rusiah nu Kaopatwelas” mengisahkan orang-orang yang hidup di kota, terutama di Bandung.
Meski tidak sekuat umumnya cerita yang dimuat dalam Nu Harayang Dihargaan, cerita-cerita Darpan yang dimuat dalam “Si Iblis” terasa lebih hidup dan memuat gambaran yang terjadi di tempat-tempat gersang seperti di pinggir Laut Jawa. Sedang cerita yang dimuat dalam bagian “Nu Kaopatwelas” banyak yang merupakan hasil imajinasi yang sering terasa tidak berakar pada bumi nyata seperti “Budak nu teu balik” dan “Kota”. Yang terasa mengganggu ialah banyaknya penggunaan kata “mun” dan “lamun” (= kalau) yang seharusnya “yén” (= bahwa). Hal itu niscaya pengaruh dari bahasa Indonésia yang belakangan banyak mempergunakan kata “kalau”, “apabila” atau “bila” yang seharusnya “bahwa”. Hal itu terjadi karena banyak orang Jawa yang dalam berbahasa Indonésia tidak tahu bahwa “yén” dalam bahasa Jawa mempunyai arti dua dalam bahasa Indonésia, ialah “kalau” dan bahwa”. Ketidaktahuan itu kemudian dianggap sebagai gaya baru dalam berbahasa sehingga banyak diikuti juga oléh bukan orang Jawa, dan para penulis dalam bahasa Sunda ikut-ikutan latah.
Élégi Patani adalah kumpulan sajak pertama karya Arie Suhanda yang sebelumnya sering mempergunakan nama Érry Wisnu Asuhan kalau mengumumkan sajak atau dangdingnya dalam majalah Manglé, Langensari, dll. Namun yang dimuat dalam Élégi Patani ini semuanya sajak baru yang ditulis tahun 2003 - 2008. Témanya jelas banyak mengeritik keadaan negara dan tingkah laku manusianya, dikemukakan dengan bahasa yang terlalu prosais. Terasa ketika menulis sajaknya penyair tidak terlalu memanfaatkan bahasa puisi seperti métafora, sehingga tidak ada yang mampu mengajuk hati sampai ke dalam.
Serat Panineungan adalah kumpulan sajak Étti RS yang kelima setelah Jamparing (1984), Gondéwa (1987), Maung Bayangan (1994) dan Lagu Hujan Silantang (2003). Kekuatan Étti adalah dalam pemakaian métafora yang disertai dengan purwakanti yang seakan dipungutnya dengan mudah dan wajar. Meskipun sajak-sajak yang dimuat dalam Serat Panineungan ini tidak memperlihatkan bobot yang lebih mendalam daripada sajak-sajaknya yang terdahulu terutama yang dimuat dalam Maung Bayangan, malah banyak yang merupakan cetusan asmara remaja, namun di antara sajak-sajak catatan perjalanan yang dibuatnya di berbagai tempat yang dia kunjungi, masih cukup banyak sajak dan dangdingnya yang berhasil menjadi puisi yang sederhana namun bulat, seperti “Titis Tulis”, “Hiji Sagara”, “Duriat Natrat ka Tanah Karamat”, “Leuwi”, “Surat keur Lemah Cai”, “Cipularang II”, “Angin”, “Nyukcruk Parung …” dan “Diajar Ludeung”.
Karena itu yang terpilih sebagai karya yang mendapat Hadah Sastera “Rancagé” 2009 untuk karya dalam bahasa Sunda adalah

Serat Panineungan
Kumpulan sajak Étti RS
(terbitan Kiblat Buku Utama, Bandung)

Dengan demikian Étti RS, yang untuk kedua kalinya menerima Hadiah Sastera “Rancagé” (yang pertama tahun 1995 untuk kumpulan sajaknya Maung Bayangan), berhak menerima Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 berupa piagam dan uang (Rp 5 juta).
Sedang yang terpilih untuk mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk jasa, karena besar jasanya dalam memelihara dan mengembangkan bahasa Sunda terutama melalui lagu-lagu karawitan ciptaannya, adalah

Nano S. (lahir di Garut, 4 April 1944)

Nano S. tamatan Konsérvatori Karawitan Sunda dan Akadémi Senitari (ASTI), mengajar di SMKI Bandung, aktif dalam bidang karawitan Sunda tradisional, baik sebagai pencipta lagu, pelaksana pertunjukan, maupun pimpinan grup, dll. Dia telah mencipta ratusan lagu karawitan, banyak di antaranya kemudian dijadikan lagu pop Sunda yang sangat populér karena digemari bukan hanya oléh orang Sunda seperti “Kalangkang”. Dia pun menciptakan karya-karya daria seperti “Sang Kuriang” dan “Warna”. Satu-satunya seniman Sunda (Indonésia?) yang masuk dalam “World Music Library” yang diproduksi oléh Seven Seas dengan produser Hoshikawa Kyoji, album CD-nya berjudul “Nano S., the Great Master of Sunda Music” (1994). Lagu-lagu ciptaannya juga diproduksi di Amérika Serikat bersama dengan pencipta lagu dari negeri-negeri lain seperti India, Nubia, Mongol, Jepang, dll. (1995). Kepopuléran lagu-lagunya yang liriknya ditulis dalam bahasa Sunda ikut memelihara dan menyebarkan bahasa Sunda di kalangan generasi muda. Nano sendiri banyak menulis sajak, cerita péndék dan artikel dalam bahasa Sunda. Cerita-cerita péndéknya diterbitkan dengan judul Nu Baralik Manggung (2003). Dalam bidang keahliannya Nano menulis Haleuang Tandang (1976) dan Pengetahuan Karawitan Sunda (1983). Nano sering diundang ke luar negeri baik untuk memimpin pertunjukan kesenian Sunda maupun sebagai artist in residence. Nano mendapat Anugerah Akadémi Jakarta (2004).
Kepada Nano S. akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk bidang jasa dalam sastera Sunda berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).

Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk sastera Jawa

Dibandingkan dengan tahun 2007, dalam tahun 2008 jauh lebih sedikit karya sastera Jawa yang terbit, yaitu hanya 4 judul, yaitu Lintang Biru: Antologi Geguritan Béngkél Sastra Jawa 2008; Dongané Maling, karya Yohanes Siyamta, kumpulan karya berupa guritan, cerkak, obrolan dan pengalaman penulisnya; Singkar roman karya Siti Aminah dan Trah roman karya Atas S. Danusubroto.
Lintang Biru memuat guritan karya 24 orang siswa SMP Kabupatén Bantul sebagai hasil Béngkél Sastra Jawa yang diselenggarakan oléh Balai Bahasa Yogyakarta. Dongané Maling campuran karya fiksi dengan obrolan dan catatan pengalaman, sukar dianggap sebagai karya sastera yang utuh. Karena itu Lintang Biru dan Dongané Maling disisihkan dari penilaian untuk mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2009.
Maka yang dinilai untuk mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 adalah dua buah roman Singkar dan Trah. Singkar (nama désa tapi tidak diberitahukan secara langsung) ditulis dengan bahasa anak muda, seakan ditujukan hanya untuk bacaan anak muda. Roman yang panjangnya hanya 134 halaman itu dibagi menjadi 24 bab dan hampir dalam setiap bab muncul tokoh-tokoh antagonis, kebanyakan dalam adegan flash back, sehingga terjadi digrési dan menjadi tidak logis. Sebenarnya cukup menarik cerita tentang gadis yang dipaksa ibunya untuk menikah dengan jejaka yang tidak dicintainya, yang ternyata sama dengan pengalaman ibunya sendiri ketika gadis yang juga dipaksa oléh ibunya untuk menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya. Tetapi penyelesaian akhir cerita dengan peristiwa gempa di Bantul (Singkar ternyata berada di wilayah Bantul) terasa terlalu mudah dan terlalu mendadak.
Trah mengisahkan seorang gadis cantik bernama Tilarsih yang tertipu oléh Atun, gérmo yang membawanya ke Jakarta dengan janji akan memperkenalkannya dengan bos rekaman sehingga Tilarsih akan menjadi penyanyi terkenal. Ternyata Atun membawanya ke bordil, sehingga Tilarsih terjerumus menjadi perempuan penghibur. Tilarsih akhirnya ditemukan oléh kekasihnya, Bagus, yang berasal dari désanya juga yang sengaja mencarinya di Jakarta. Setelah bertemu, Tilarsih berjanji akan kembali ke jalan yang benar dan Bagus akan menikahinya. Namun ketika Tilarsih kembali ke désanya, sudah berédar cerita tentang pekerjaannya yang hina di Jakarta, sehingga menimbulkan berbagai kesulitan dan godaan baginya. Namun dengan teguh hati Tilarsih menunggu kekasihnya kembali dan berhasil mengembalikan wibawanya sebagai wanita baik-baik. Bagus ternyata keturunan keluarga yang pernah menjatuhkan kehidupan orang tua Tilarsih. Tilarsih ternyata keturunan priyayi (éyangnya demang), yang jatuh melarat karena ulah jahat kakék Bagus dengan menjerumuskannya menjadi penjudi sehingga kekayaannya amblas dijual kepada kakék Bagus.
Trah mempunyai kekuatan pada aspék kultur karena tidak saja menggambarkan kelas masyarakat bangsawan dengan rapi, tetapi juga menggambarkan watak nrima, hormat kepada orang tua, sabar dan andhap asor yang ditekankan sebagai sikap luhur. Tatakrama berkomunikasi antar manusia terpelihara dengan baik.
Dengan demikian yang terpilih sebagai karya sastera Jawa terbitan tahun 2008 yang menerima Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk karya, adalah

Trah
karya Atas S. Danusubroto
(terbitan Penerbit Narasi, Yogyakarta)

Maka Atas S. Danusubroto sebagai pengarangnya berhak untuk menerima Hadiah Sastera “Rancagé” 2009, berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Sedang yang terpilih untuk mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk jasa, karena besar jasanya dalam memelihara dan mengembangkan bahasa Jawa, adalah

Sunarko Budiman (lahir di Tulungagung, 21 Januari 1960)

Sebagai tamatan SPG dia menjadi guru SD dan sebagai guru SDN dia sempat memperoléh penghargaan Guru Teladan (1989) dan menjadi Guru Berpréstasi (2006) Kabupatén Tulungagung. Sementara itu dia pun melanjutkan pelajaran sehingga pada akhirnya tamat S-2 Magister Kebijakan Pendidikan di Universitas Muhammadiyah, Malang. Dia menaruh perhatian besar terhadap bahasa dan sastera Jawa, bukan saja sebagai penulis melainkan sebagai pengelola Sanggar Sastra Jawa Triwida yang didirikan oléh Tamsir AS (almarhum). Sanggar ini berjasa mendorong kelahiran para penulis sastera Jawa di daérah Tulungagung, Trenggalék dan Blitar. Sejak 1998 dia dipercaya sebagai Ketua Sanggar Sastra Triwida. Dia pernah menjadi Pemimpin Redaksi majalah Prasasti (1993-1997), majalah supranatural Pamor Jagad Gaib (2002-2005) dan majalah Gayatri (sejak 2007). Dia juga menjadi wartawan majalah Panyebar Semangat, Jaya Baya dan Damar Jati. Karyanya berupa artikel, réportase, cerkak dan guritan. Dia banyak menggunakan nama samaran, al. Narko Rasodrun, Datiek Yuminarko, Ki Narkosabda, Narkoba, dll. Dia juga menyusun buku pelajaran bahasa Jawa dan menjabat sebagai Ketua Litbang Kelompok Penulis Buku Pendidikan Dasar Jawa Timur (sejak 1991). Dia juga aktif dalam berbagai séminar dan kongrés bahasa dan sastera Jawa.
Kepada Sunarko Budiman akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk bidang jasa dalam sastera Jawa berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).

Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk sastera Bali

Perkembangan sastera Bali tahun 2008 sangat menggembirakan, baik secara kualitas maupun secara kuantitas. Buku yang terbit tahun 2008 ada sembilan judul (tahun 2007 hanya lima judul), yaitu 3 judul kumpulan puisi, 2 judul roman, 2 judul drama dan 2 judul kumpulan cerita péndék dengan téma beragam dan penggunaan bahasa yang kian kréatif.
Ada tiga pengarang wanita yang menerbitkan buku dalam bahasa Bali modéren, hal yang tak pernah ada sebelumnya. Sejak kemunculan sastera Bali modéren tahun 1910, belum pernah ada pengarang wanita yang menerbitkan buku. Ketiga pengarang itu adalah Anak Agung Sagung Mas Ruscitadéwi (l. 1965) dengan kumpulan cerita péndék Luh Jalir (Perempuan Nakal), I Gusti Ayu Putu Mahindu Déwi Purbarini (l. 1977) dengan kumpulan puisi Taji (Taji) dan Ni Kadék Widiasih (l. 1984) dengan kumpulan puisi Gurit Pangawit (Syair Pemula). Ketiganya berpendidikan universitas dan menulis juga dalam bahasa Indonésia.
Karya meréka memberikan pérspéktif baru dalam perkembangan téma sastera Bali modéren. Masalah kesetaraan génder dan pengalaman hidup manusia dari pérspéktif perempuan mulai muncul. Sayangnya kemampuan ketiganya dalam menggarap téma dan mengembangkan éstétika belum mantap.
Buku-buku lain adalah karya I Nyoman Manda (dua drama Nembang Girang di Bukit Gersang dan Saput Poléng, dua buah novelét yaitu Ngabih Kasih ring Pesisi Lebih dan Sawang-sawang Gamang), kumpulan cerita péndék Merta Matemahan Wisia karya Madé Suarsa, dan kumpulan puisi Somah karya Nyoman Tusthi Éddy.
Karya-karya Nyoman Manda, yang pernah mendapat Hadiah “Rancage” 3 kali (satu untuk jasa), selalu memperlihatkan gaya bertutur yang lancar dan mudah dimengerti. Kisah-kisahnya selalu dikemas dengan percintaan yang digunakannya untuk menyampaikan pesan-pesan moral. Drama Saput Poléng (Sarung Poléng) mengisahkan perang penaklukan kerajaan Bali oléh pasukan Gajah Mada dari Majapahit yang diisi dengan kisah cinta Gajah Mada dengan seorang puteri Bali. Novelét Ngabih Kasih ring Pesisi Lebih (Kasih Bersemi di Pantai Lebih) berkisah tentang percintaan remaja siswa SMA diselingi dengan pesan-pesan adat, tradisi dan agama agar menjadi bekal untuk menghadapi masa depan. Karya-karya Nyoman Manda sangat tepat untuk menanamkan kegemaran anak-anak muda Bali terhadap sastera dalam bahasa ibunya, karena bahasanya mudah dicerna, alur ceritanya tidak begitu kompléks, sehingga anak-anak remaja tidak menghadapi kesulitan membaca dan menikmatinya.
Dalam kumpulan cerita péndék Merta Matemahan Wisia (Kabaikan Mengakibatkan Kematian), Madé Suarsa menggarap berbagai téma seperti masalah ketimpangan sosial (kasta), kemiskinan, matérialisme, dan hukum karma. Kemampuan membangun gaya bahasa yang penuh irama, merupakan salah satu ciri utama cerita karya Madé Suarsa. Hanya saja konséntrasi yang begitu besar yang diberikan terhadap gaya bahasa, perulangan dan permainan kata yang agak berlebihan membuat penggarapan struktur cerita terabaikan.
Kumpulan puisi Somah (Suami/Isteri) karya Nyoman Tusthi Éddy tampil memikat karena keterpaduan yang kuat antara téma, pengucapan dan gaya bahasa. Téma yang diangkat sangat beragam, mulai dari hubungan suami isteri, toko serba ada, korupsi, uang, jam, kulinér, taksi dan pesisir Bali dalam kontéks perkembangan pariwisata. Hampir separo berupa sajak péndék, hanya terdiri dari satu bait, mengambil bentuk syair dan pantun. Dengan puisi péndék itu Nyoman Tusthi Éddy mampu membentangkan gagasan yang cukup luas, memikat dan menyentuh serta utuh.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka yang akan diberi Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk karya dalam bahasa Bali adalah

Somah
Kumpulan sajak I Nyoman Tusthi Éddy
(terbitan Sanggar Buratwangi)

Maka I Nyoman Tusthi Éddy sebagai penyairnya berhak untuk menerima Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Sedangkan yang terpilih untuk diberi Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk jasa dalam bahasa dan sastera Bali adalah

I Nengah Tinggen (lahir di Buléléng tahun 1931)

Pada tahun 1961, Nengah Tingen terpilih sebagai sékertaris Panitia Penyelenggara Buku-buku Pelajaran bahasa Bali bersama 11 orang utusan daérah dari seluruh Bali. Tahun 1971, ia menyusun buku pedoman pemakaian aksara Bali. Sejak itu dia menulis berbagai buku tentang Bali, sebagian besar dalam bahasa Bali. Dia telah menerbitkan lebih dari 40 judul buku termasuk tentang éjaan bahasa Bali, buku kidung dan gaguritan dan buku-buku cerita. Karyanya banyak digunakan sebagai penunjang pelajaran bahasa dan sastera Bali di sekolah-sekolah. Di antaranya berjudul Satua-satua Bali (Cerita-cerita Bali) yang memuat dongéng-dongéng yang dikenal dalam masyarakat Bali terbit dalam 15 jilid, Sor Singgih Bahasa Bali (Gaya bahasa halus dan biasa dalam bahasa Bali), Dasar-dasar Pelajaran Kakawin dan Diktat Bahasa Bali.
Dia bekerja sebagai guru bahasa dan sastera Bali di SPGN Singaraja dan menjadi dosén luar biasa di STKIP Agama Hindu Singaraja. Dia juga mengisi siaran bahasa Bali di RRI Stasiun Singaraja, aktif dalam berbagai séminar serta selalu mendorong masyarakat agar mencintai bahasa dan sastera Bali. Dia pernah menerima anugerah seni budaya Dharma Kusuma dari pemerintah Provinsi Bali.
Maka kepada I Nengah Tinggen akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk jasa dalam bahasa dan sastera Bali berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).

Hadiah “Samsudi” 2009 untuk buku bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda

Tahun yang lalu, Hadiah “Samsudi” diberikan kepada pengarang buku Catetan Poéan Réré, yaitu Ai Koraliati. Ternyata pemberian hadiah itu menimbulkan héboh karena buku Catetan Poéan Réré belum terbit sebagai buku, tidak terdapat di toko-toko buku. Buku yang disampaikan kepada Yayasan “Rancagé” oléh pengarangnya adalah contoh yang dibuat penerbit dalam jumlah terbatas untuk Panitia Proyék Pembelian buku. Pada tahun 2007 mémang ada rencana pemerintah untuk membeli buku-buku bahasa Sunda dalam jumlah yang besar. Dana yang disediakan konon sampai Rp. 80 milyar. Karena itu para penerbit dan bukan penerbit berlomba-lomba hendak menerbitkan buku bacaan bahasa Sunda terutama buku bacaan anak-anak. Tetapi ternyata pembelian besar-besaran itu tidak jadi dilaksanakan, dan dengan demikian banyak contoh buku yang sudah dibuat tidak jadi diterbitkan. Penerbit-penerbit yang membuat contoh buku demikian tidak bermaksud menyediakan bacaan dalam bahasa ibu, melainkan hanya mau turut mengambil bagian dalam “pembagian kué” melalui permainan pat-pat-gulipat dengan panitianya.
Menjelang akhir tahun 2008, Yayasan Rancagé menerima sejumlah judul buku dari seorang pengarang. Buku-buku itu menurut titimangsanya adalah terbitan tahun 2007, tetapi setelah dipantau ternyata tidak pernah berédar di toko-toko buku. Dengan demikian jelas bahwa buku-buku itu adalah sekedar contoh untuk “proyék” seperti buku Catetan Poéan Réré. Dengan demikian buku-buku itu disisihkan dari penilaian untuk memperoléh Hadiah “Samsudi” 2009. Perlu kami jelaskan bahwa Yayasan “Rancagé” hanya menilai buku-buku yang dijual di toko-toko buku baik untuk Hadiah “Rancagé” maupun untuk Hadiah “Samsudi”.
Dalam tahun 2008 ada sejumlah buku bacaan anak-anak bahasa Sunda yang terbit, tetapi kebanyakan merupakan cétak ulang. Buku baru yang kami anggap cukup baik untuk diberi Hadiah “Samsudi” adalah

Sasakala Bojongemas
Karya Aan Merdéka Permana
(wedalan Ujung Galuh, Bandung)

Kepada Aan Permana Merdéka akan dihaturkan Hadiah “Samsudi” 2009 berupa piagam dan uang (Rp. 2.500.000).

*
Upacara penyerahan Hadiah Sastera “Rancagé’ dan Hadiah “Samsudi” 2009 akan dilaksanakan dalam suatu upacara khusus yang akan diselenggarakan di Jakarta. Tempat dan waktunya akan ditetapkan kemudian.

Pabélan, 31 Januari, 2009

Yayasan Kebudayaan “Rancagé”

Ajip Rosidi
Ketua Déwan Pembina